Archive for the ‘Articles’ Category

Jalan Panjang FKY

Sunday, July 5th, 2009

Oleh ardin (19 Juni 2009)

Mungkin Festival Kesenian Yogyakarta atau sering disingkat FKY adalah salah satu festival yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Jogja. Tahun ini, perjalanan panjang FKY sudah memasuki tahun penyelenggaraan ke 21. selama itu pula tema-tema berubah seiring perubahan jaman. Tapi ada satu yang tak pernah berubah adalah pasar unik FKY.

Dalam setiap penyelenggaraannya, FKY selalu diramaikan oleh berbagai pertunjukan seni mulai dari seni tari hingga festival band indie. Beberapa acara yang terkadang unik tak pernah luput dari pembicaraan pengujung. Lihat saja, fashion show khusus ibu dan bayi atau lomba menyanyi waria.

Berbagai acara unik selalu berbeda setiap tahun. Hal ini telah disesuaikan dengan tema besar yang diusung oleh panitia penyelanggara. Untuk tahun ini, panitia telah menetapkan kebudayaan daerah sebagai tema besar. Lalu beberapa acara seperti pertunjukan tari tradisional, hingga campur sari pun jadi jualan utama disamping acara-acara unik seperti fashion show ibu dan bayi atau fashion show waria yang masih tetap dipertahankan.

Perubahan tema dan acara selalu terjadi sesuai dengan pesan yang akan disampaikan oleh panitia. Namun dibalik perubahan-perubahan tersebut, pasar unik FKY adalah salah satu ranah yang tak pernah disentuh perubahan. Sejak pertama kali diselenggarakan, Pasar seni FKY memang selalu memancing keramaian tersendiri.

Maka tak heran jika panitia kali ini menyiapkan 213 stand yang dapat digunakan berbagai kalangan untuk berjualan barang khas jogja atau sekedar memamerkan komunitas mereka. Maka keberagaman dan keunikan pasar seni yang tak terduga setiap tahun inilah yang menjadi salah satu daya tarik FKY.

Lihat saja stand lulur Jenar yang menawarkan berbagai produk lulur tradisional yang terbuat dari berbagai macam bahan tradisional mulai dari lumpur hingga coklat. Stand lain pun ada yang menampilkan komunitas pelukis jalanan yang menawarkan jasa lukis murah meriah dan secepat kilat hingga bisa ditunggu.

Berbagai keunikan tak terduga dan tema yang berubah sesuai jaman dalam setiap penyelenggaraan FKY adalah salah satu hal yang membuat warga Jogja menunggu-nunggu even ini. “FKY akan menjadi hiburan segar ditengah hiruk pikuk kampanye” kata Sultan Hamengkubuwono X beberapa waktu lalu ketika membuka FKY secara resmi. Disamping sebagai hiburan, jalan panjang FKY telah menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi warga Jogja.

taken from :

http://public.kompasiana.com/2009/06/19/jalan-panjang-fky/

Update me when site is updated

Kerajinan Akar Wangi: Modal Minim Omzet Puluhan Juta

Sunday, July 5th, 2009
picture-4
ALIB (Desa Kepek 06/28, Semin Semin Gunung Kidul, Yogyakarta 55854)

SUNGGUH menarik perjalanan bisnis Alib Udin Nugroho. Betapa tidak, ketika remaja seusianya sibuk bermain dengan teman sebayanya, Alib justru sibuk berbisnis. Remaja yang baru duduk di bangku kelas III SMP ini, mengisi waktu luangnya dengan membuat kerajinan dari akar wangi yang memang banyak terdapat di desanya, Desa Kepek, Gunung Kidul, Yogyakarta. Awalnya hanya iseng, namun lama kelamaan berkembang menjadi serius ketika secara tak terduga datang orang membeli karyanya.

“Saya sempat heran tapi juga senang. Maklum masih SMP. Tak disangka ada yang tertarik, dan langsung memesan banyak. Sejak itu pesanan datang mengalir dan tanpa kami sadari ini telah menjadi bisnis,” ungkap Alibyang ditemui pada sebuah pameran baru-baru ini di JICC Jakarta. Setelah order berdatangan, ibunya, Wastri, dan saudara-saudaranya pun terjun membantu. Ibunya lah yang mengurus apabila orderan datang. Tugas Alib hanya mendesain dan membuat produk. “Waktu itu saya belum mengerti berdagang, saya hanya tahu membuat produk. Ibu yang atur semua, sedang Ayah tidak ikut membantu karena beliau punya usaha kerajinan sendiri yakni ukiran kayu,” tambah mahasiswa semester satu Universitas Bina Sarana Informatika Jakarta ini.

Alib bertutur, sesungguhnya ia tak pernah menyangka kalau aktivitas isengnya itu bisa berkembang menjadi seperti sekarang. Pasalnya ketika itu ia hanya membuat aneka pajangan dari akar wangi untuk hiasan rumahnya. Seperti; boneka panda dan kipas-kipasan, semuanya menggunakan akar wangi yang memang banyak terdapat di kampungnya. “Selain untuk hiasan rumah, harum akar wangi dipercaya bisa mengusir rayap,” tutur Alib yang mengaku hobi bikin kerajinan karena keluarganya banyak yang berprofesi sebagai perajin.

Memulai dengan modal Rp 57 ribu untuk pembelian benang, jarum dan lem, kini omzet Alib mencapai Rp 25-40 juta per bulan. Cukup lumayan. Sekalipun diakui Alib, sebenarnya omzet itu sudah jauh berkurang dibanding 3-4 tahun lalu ketika usahanya sedang booming.

Sebenarnya, jelas Alib lagi, akar wangi bisa dibuat aneka produk bukan hanya boneka tapi juga peralatan rumah tangga bahkan aksesoris ruangan. Misalnya, gordin, atau taplak meja. Bila mutu akar wangi yang bagus, benda-benda itu akan mengeluarkan bau harum. “Mutu itulah yang harus kami pertahankan, mengingat sekarang ini saingan begitu banyak. Di tempat kami saja, banyak pekerja yang sudah pandai akhirnya keluar dan membangun usaha sendiri. Mereka juga membuat kerajinan akar wangi. Hanya masalahnya, beberapa dari mereka kadang ‘menghancurkan harga’. Menjual produknya jauh lebih murah. Kadang ada juga buyer yang tak peduli mutu, karena murah yang mereka borong. Kami berusaha tidak terpengaruh, artinya, tetap membuat produk bermutu meski keuntungan tidak terlalu besar. Itulah jalan agar bisa tetap survive, selain selalu mengembangkan kreativitas,” papar mahasiswa BSI jurusan Akuntansi ini.

Budidaya Sendiri

Sekarang ini, lanjutnya, usaha Alib dan keluarganya tidak hanya terbatas membuat produk tapi juga melayani pembelian material (akar wangi). Sejak usahanya berkembang, Alib menyewa lahan seluas 5 hektar di Ponorogo untuk melakukan sendiri budidaya akar wangi. “Hasil produksi melimpah, karena itu kami juga melayani pembelian material mentah. Penjualan material mentah pun terus meningkat karena perajin akar wangi semakin banyak,” katanya.

Diakuinya, belakangan perkembangan bisnisnya kurang begitu bagus. Ada banyak faktor, selain kondisi perekonomian Tanah Air, juga karena semakin banyak pesaing. Sekarang omzetnya turun hingga hampir 50 persen. Alib berharap kondisi segera pulih. Dia sendiri tidak bisa terlalu fokus pada usaha tersebut karena sedang menuntut ilmu di Jakarta. Sejak satu setengah tahun lalu, sang Ayah pun ikut membantu. “Kebetulan orderan kerajinan kayu beliau agak turun, karena bisnis akar wangi lebih bagus, maka beliau beralih ke sini. Lagi pula saya kan harus di Jakarta kuliah,” tambah anak tertua dari dua bersaudara ini.

Rencananya, tahun depan Alib akan membuat show room di Jakarta untuk pengembangan usaha. Penjajakan sudah lama dilakukan. Apalagi, kata Alib, banyak buyer yang lebih suka memesan dari Jakarta. Lebih praktis, mereka tidak harus ke Gunung Kidul. *** tokoh

taken from :

http://www.matabumi.com/bisnis/kerajinan-akar-wangi:-modal-minim-omzet-puluhan-juta

Update me when site is updated

CITRA : Batik Indigofera, Telah 100 Tahun Terpuruk

Sunday, July 5th, 2009

Di abad modern ini, kita masih mengenal baik peribahasa Melayu: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kalimat warisan nenek moyang itu mengungkapkan kekuatan yang ditimbulkan oleh nila zat warna biru — yang meski hanya setitik saja — dapat menghancurkan keseluruhan warna putih dari sebelanga susu.

Menurut Ir Dra Etty Larasati Suliantoro, kolektor, pengamat dan pakar batik dari Yogyakarta — istilah nila dikenal sebagai tetumbuhan yang dapat menghasilkan warna biru kuat, mantap dan abadi yang tidak diketahui asal muasalnya — yang ternyata melekat pada warna batik tulis kuna dari Pulau Jawa. Jenis tanaman tersebut adalah Indigofera Sumatrana Gaertn, termasuk keluarga Papillinaceae berbunga kupu-kupu, tetumbuhan berkeping dua, menghasilkan zat warna biru dan pupuk hijau.
“Bagi masyarakat Jawa, tumbuhan ini dikenal dengan nama Tarum, Tom Jawa atau Brendel. Sedang nila lebih dikenal pada masyarakat Melayu,” kata Larasati yang pernah menjadi Rektor Institut Pertanian Intan Yogyakarta. Pengamat batik ini juga menunjuk pada laporan Carl Peper Thunberg yang mengunjungi Jawa tahun 1775. Carl melaporkan Jawa penuh tetumbuhan indogofera liar — yang ternyata sudah ‘dibawa’ ke luar negeri (ekspor ke Belanda?) bersama beras dan rempah. Sementara di Eropa, indigofera dianggap The King of Colour, karena mampu menghasilkan zat warna yang memenui warna biru yang tak luntur, tahan, tetap dan mantap. Dapat diserap baik oleh bahan yang berasal dari tetumbuhan maupun hewan. Suatu warna biru yang dingin, dengan sentuhan cita rasa kehangatan.
Dalam sejarah peradaban di planet bumi ini, warna biru indigo dipergunakan dalam kebudayaan manusia sudah sejak 2500 tahun sebelum Masehi. “Menjadi warna busana para raja dan puteri istana bahkan juga rakyat biasa,” kata Larasati. Budidaya pencelupan besar yang pertama ada di India barat.

Studi tentang indigofera juga menunjuk Marcopolo pada abad 13 telah melihat eksport ke Eropa bersama jahe, mrica dan lain-lain dalam kemasan ‘canggih’. Tercatat indigofera berkualitas bagus datang dari Benggala, Cina, Guatemala, Senegal, Mesir dan Jawa.
“Indigofera Jawa adalah asli Indonesia, sangat bagus kualitasnya, disukai terutama untuk mencelup katun dengan pencelupan dingin,” jelas Etty. Indigofera pada abad ke-19, diimpor oleh VOC melalui pelabuhan Amsterdam dan Rotterdam sebanyak 500.000 kg pasta tiap tahun. Disayangkan, jumlah yang luar biasa banyak tersebut seolah ‘tidak berarti’ — kalah diperbincangkan dengan impor rempah-rempah. “Sejarah Indonesia tidak pernah membicarakan indigofera. Padahal indigofera sama dengan emas biru bagi VOC, sehingga juga sangat diburu,” jelas Larasati.

Sementara, batik Jawa yang tetap berwarna biru nila dan coklat sogan terus berkembang dalam ragam hias dan teknologi tepat guna, harus tegar menghadapi kendala dan perubahan jaman. Penemuan pewarna sintetis telah menghancurkan sejarah zat warna alam indigofera yang telah berlangsung puluhan abad. Pewarna sintetis mengandung karsinogen dan tidak ramah lingkungan.

Kita tak bisa menutup mata pada imbauan World Craft Council agar seluruh dunia kembali ke pewarna alam dari tumbuhan. “Mari mulai dengan aplikasi terhadap batik yang sangat dekat dengan kehidupan sebagai kita,” tegas Larasati. Penggunaan indigofera dalam pewarnaan batik memiliki banyak nilai strategis — antara lain revitalisasi pewarna alam sebagai jawaban jitu terhadap masalah pencemaran lingkungan yang muncul akibat penggunaan bahan pewarna sintetis. Selain itu melestarikan indigofera sebagai kekayaan kawasan tropis Indonesia dan warisan pusaka bagi generasi yang akan datang. Memberdayakan masyarakat ikut berperan serta dalam budidaya dan pemanfaatan indigofera sebagai sumber penghasilan dan kesejahteraan masyarakat.

Terkait dengan itu, 1 - 31 Mei ini diselenggarakan Pagelaran Kebangkitan ‘100 Batik Indigofera’ Sesudah Keterpurukan 100 Tahun di Mustokoweni The Heritage Hotel. Vera Yusnita Anggraini, panitia pameran, mengatakan dalam pameran itu bisa dilihat koleksi motif antara lain parang sujen, parang rusak, seling slobak, parang baris, nitik, lumbu agen, buron toya, gajah birowo, padan gempal, sidkomukti, galar, pramugari, sri katon, dll. (Esti Susilarti)-a

Taken from : http://www.kr.co.id, CITRA : Batik Indigofera, Telah 100 Tahun Terpuruk, Esti Susilarti, 11/05/2008 05:28:08

Update me when site is updated

Indigo Batik Captures That Natural Look

Sunday, July 5th, 2009

The mixture of extract of indigofera leaves with water in a plastic bucket looked blue, with a big lump in the middle.

Japanese businessman Nakanishi from the Japan Blue fabric company mixes natural dyes used in batik making in Yogyakarta.(JP/Tarko Sudiarno)

Japanese businessman Nakanishi from the Japan Blue fabric company mixes natural dyes used in batik making in Yogyakarta.(JP/Tarko Sudiarno)

Nakanishi, a fabric businessman from the Japan Blue company stirred the mixture with his hands, with no gloves. After a while, it turned indigo blue.

He dipped his finger into the light blue mixture, licked it and said, “This is a good dye. It’s not hazardous to health.”

That particular afternoon, a group of Japanese from the Aikobo Group, and who love the indigo color, were surprised to see how Nakanishi used the indigofera leaves to make blue dye at the showroom of the Royal Silk Foundation in Yogyakarta.

For some people, the dye was revolting, but not to Nakanishi. He thought of it as a dish in a restaurant that he had to taste first to find out how good it was.

For him, making a dye from natural substances is nothing new. Every day in Kyoto, Japan, he does the mixing himself.

Although he comes from a rich family, making a dye is not a humdrum manual task he is embarrassed to do.

Not many people realize Nakanishi, whose fingernails are blue from exposure to indigofera every day, is a successful businessman.

The dyeing demonstration was one of the ways to impress Japanese lovers of indigo fabrics on the authenticity of the coloring process, when they visited Yogyakarta for two days.

Members of the Aikobo Group wanted to see the process for themselves, especially its application to batik making.

Yogyakarta-made batiks are gaining greater popularity in Japan, particularly the hand-made batiks in indigo colors.

“In Japan, people now like fabrics which use natural dyes,” said Masato Kuroda, the advisor to the Royal Silk Foundation.

Members of the Japanese Aikobo group show off their batik-style Obi traditional dress during a recent trip to Yogyakarta. (JP/Tarko Sudirano)

Members of the Japanese Aikobo group show off their batik-style Obi traditional dress during a recent trip to Yogyakarta. (JP/Tarko Sudirano)

(JP/Tarko Sudirano)Members of the Japanese Aikobo group show off their batik-style Obi traditional dress during a recent trip to Yogyakarta. (JP/Tarko Sudirano)

“Batiks in indigo colors are in great demand. Many Japanese women use Yogyakarta batiks for their Obi or traditional dress.”

The back to nature concept, through using natural substances, applies not only to the dyeing process but also to the creation of the fabric, she said.

In Japan, batiks made of silk and cotton are in great demand, for health reasons.

“A silk dress will keep you warm when you wear it in winter. On the other hand, it will absorb your perspiration in summer,” Kuroda said.

“People are averse to chemical coloring and prefer fabrics using natural coloring to keep their skin healthy. The use of indigofera leaves for dyeing also protects you from mosquitoes. Fabrics with indigo coloring are good for babies and children.”

Yogyakarta batik makers are keen to seize upon increasing awareness in Japan of the need to go back to natural materials and natural coloring for clothing.

Currently, at least three companies in Yogyakarta are tapping into this market opportunity: Rumah Kapas, PT Yarsilk Gora Mahotama and Rumah Batik Nakula Sadewa.

“Our natural silk batiks, made from silkworms, can now be found in two major supermarkets in Japan and have enjoyed a good response from Japanese consumers,” said Fitriani Kuroda of PT Yarsilk Gora Mahotama.

The company’s products have even been given the Inacraft Award 2008 for best quality fabric and textiles.

To develop these natural silk-based products, Royal Silk Foundation and Garuda Indonesia are cultivating cashew nut trees in Imogiri, Bantul regency, Yogyakarta, to breed silkworms as part of the One Passenger One Tree program.

Every Japanese tourist visiting Yogyakarta on board a Garuda airplane must plant one tree in the Bukit Garuda area in Karangtengah village, Imogiri.

The ticket of every Japanese tourist visiting Yogya on board a Garuda ‘plane includes the cost of one tree.

The indigo fabric lovers from the Aikibo Group also planted cashew nut trees there.

In between the cashew nut trees, indigofera trees have also been intercropped, to meet market demand.

These indigofiera trees, which grow as shrubs, are expected to meet the short-term economic needs of the farmers in Karangtengah before they can harvest the cocoons of the silkworms living on the cashew nut trees.

“We hope our strength in the Japanese market will impact favorably on the welfare of farmers in Imogiri,” said Fitriani.

Taken from : Indigo batik captures that natural look by Tarko Sudiarno , The Jakarta Post , Yogyakarta | Fri, 07/04/2008 11:08 AM | Java Brew

Update me when site is updated