Di abad modern ini, kita masih mengenal baik peribahasa Melayu: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kalimat warisan nenek moyang itu mengungkapkan kekuatan yang ditimbulkan oleh nila zat warna biru — yang meski hanya setitik saja — dapat menghancurkan keseluruhan warna putih dari sebelanga susu.
Menurut Ir Dra Etty Larasati Suliantoro, kolektor, pengamat dan pakar batik dari Yogyakarta — istilah nila dikenal sebagai tetumbuhan yang dapat menghasilkan warna biru kuat, mantap dan abadi yang tidak diketahui asal muasalnya — yang ternyata melekat pada warna batik tulis kuna dari Pulau Jawa. Jenis tanaman tersebut adalah Indigofera Sumatrana Gaertn, termasuk keluarga Papillinaceae berbunga kupu-kupu, tetumbuhan berkeping dua, menghasilkan zat warna biru dan pupuk hijau.
“Bagi masyarakat Jawa, tumbuhan ini dikenal dengan nama Tarum, Tom Jawa atau Brendel. Sedang nila lebih dikenal pada masyarakat Melayu,” kata Larasati yang pernah menjadi Rektor Institut Pertanian Intan Yogyakarta. Pengamat batik ini juga menunjuk pada laporan Carl Peper Thunberg yang mengunjungi Jawa tahun 1775. Carl melaporkan Jawa penuh tetumbuhan indogofera liar — yang ternyata sudah ‘dibawa’ ke luar negeri (ekspor ke Belanda?) bersama beras dan rempah. Sementara di Eropa, indigofera dianggap The King of Colour, karena mampu menghasilkan zat warna yang memenui warna biru yang tak luntur, tahan, tetap dan mantap. Dapat diserap baik oleh bahan yang berasal dari tetumbuhan maupun hewan. Suatu warna biru yang dingin, dengan sentuhan cita rasa kehangatan.
Dalam sejarah peradaban di planet bumi ini, warna biru indigo dipergunakan dalam kebudayaan manusia sudah sejak 2500 tahun sebelum Masehi. “Menjadi warna busana para raja dan puteri istana bahkan juga rakyat biasa,” kata Larasati. Budidaya pencelupan besar yang pertama ada di India barat.
Studi tentang indigofera juga menunjuk Marcopolo pada abad 13 telah melihat eksport ke Eropa bersama jahe, mrica dan lain-lain dalam kemasan ‘canggih’. Tercatat indigofera berkualitas bagus datang dari Benggala, Cina, Guatemala, Senegal, Mesir dan Jawa.
“Indigofera Jawa adalah asli Indonesia, sangat bagus kualitasnya, disukai terutama untuk mencelup katun dengan pencelupan dingin,” jelas Etty. Indigofera pada abad ke-19, diimpor oleh VOC melalui pelabuhan Amsterdam dan Rotterdam sebanyak 500.000 kg pasta tiap tahun. Disayangkan, jumlah yang luar biasa banyak tersebut seolah ‘tidak berarti’ — kalah diperbincangkan dengan impor rempah-rempah. “Sejarah Indonesia tidak pernah membicarakan indigofera. Padahal indigofera sama dengan emas biru bagi VOC, sehingga juga sangat diburu,” jelas Larasati.
Sementara, batik Jawa yang tetap berwarna biru nila dan coklat sogan terus berkembang dalam ragam hias dan teknologi tepat guna, harus tegar menghadapi kendala dan perubahan jaman. Penemuan pewarna sintetis telah menghancurkan sejarah zat warna alam indigofera yang telah berlangsung puluhan abad. Pewarna sintetis mengandung karsinogen dan tidak ramah lingkungan.
Kita tak bisa menutup mata pada imbauan World Craft Council agar seluruh dunia kembali ke pewarna alam dari tumbuhan. “Mari mulai dengan aplikasi terhadap batik yang sangat dekat dengan kehidupan sebagai kita,” tegas Larasati. Penggunaan indigofera dalam pewarnaan batik memiliki banyak nilai strategis — antara lain revitalisasi pewarna alam sebagai jawaban jitu terhadap masalah pencemaran lingkungan yang muncul akibat penggunaan bahan pewarna sintetis. Selain itu melestarikan indigofera sebagai kekayaan kawasan tropis Indonesia dan warisan pusaka bagi generasi yang akan datang. Memberdayakan masyarakat ikut berperan serta dalam budidaya dan pemanfaatan indigofera sebagai sumber penghasilan dan kesejahteraan masyarakat.
Terkait dengan itu, 1 - 31 Mei ini diselenggarakan Pagelaran Kebangkitan ‘100 Batik Indigofera’ Sesudah Keterpurukan 100 Tahun di Mustokoweni The Heritage Hotel. Vera Yusnita Anggraini, panitia pameran, mengatakan dalam pameran itu bisa dilihat koleksi motif antara lain parang sujen, parang rusak, seling slobak, parang baris, nitik, lumbu agen, buron toya, gajah birowo, padan gempal, sidkomukti, galar, pramugari, sri katon, dll. (Esti Susilarti)-a
Taken from : http://www.kr.co.id, CITRA : Batik Indigofera, Telah 100 Tahun Terpuruk, Esti Susilarti, 11/05/2008 05:28:08
Tags: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=162948&actmenu=46
Buy:Synthroid.Mega Hoodia.Valtrex.Nexium.Arimidex.Accutane.Actos.Lumigan.Prevacid.Petcam (Metacam) Oral Suspension.Prednisolone.Zovirax.100% Pure Okinawan Coral Calcium.Retin-A.Zyban.Human Growth Hormone….